jump to navigation

Kontroversi Rancangan Kurikulum 2013 March 13, 2013

Posted by sastraahmashogy in Badan Pimpinan IMADA, IMADA News, Informasi Badan Pimpinan IMADA, Jakarta Dalam Berita, National News.
add a comment

Hari Minggu (10/03/2013) lalu, Ikatan Mahasiswa Djakarta mengadakan diskusi mengenai penerapan kurikulum baru 2013 yang telah menuai kontroversi. Diskusi yang dilaksanakan di Taman Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini dilakukan berdasarkan keresahan yang dirasakan oleh Ikatan Mahasiswa Djakarta akan sistem pendidikan nasional yang semakin memburuk.

Diskusi tersebut akhirnya menghasilkan beberapa kesimpulan yang kiranya sangat penting sebagai masukan para petinggi negara dalam memberikan perbaikan terhadap sistem pendidikan nasional bagi warga Indonesia saat ini dan di masa mendatang.

Pada dasarnya, perbaikan dan perubahan perlu dilakukan apabila sistem yang ada saat ini dirasa kurang relevan terhadap perkembangan zaman. Namun dalam setiap perubahan harus didasari diimbangi dengan rasionalitas dan kemampuan yang berjalan searah. Hingga hari ini pemerintah terlihat sangat bersikukuh dengan pemberlakuan kurikulum baru, padahal kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dunia pendidikan Indonesia belum siap dengan perubahan tersebut, dari sisi kesiapan guru, kesiapan sarana buku dan juga kesiapan manajemen sekolah.

Anggaran yang tembus pada angka Rp. 2,49 Triliun juga menimbulkan permasalahan. Pasalnya, uang sebanyak itu untuk perubahan kurikulum merupakan pemborosan karena keberhasilan kurikulum baru ini pun masih dipertanyakan. Lebih baik pemerintah mengeluarkan anggaran bagi perbaikan infrastruktur pendidikan dan pelatihan guru demi memperbaiki kualitas pengajaran. Jangan sampai rencana perubahan kurikulum ini berpotensi menjadi kasus Hambalang kedua.

Kejanggalan juga terjadi pada rasionalisasi mengapa perubahan kurikulum harus dilakukan. Kemendikbud menyatakan bahwa perubahan ini dilakukan agar membentuk siswa-siswi yang siap menghadapi globalisasi, namun ironisnya kompetensi yang diajukan bertolak belakang dengan nilai-nilai globalisasi itu sendiri.

Sebagai warga negara Indonesia yang peduli terhadap generasi mendatang, maka dirasa perlu bagi kami untuk mengingatkan agar para petinggi negeri ini mulai melakukan perubahan yang relevan terhadap sistem pendidikan. Karena pendidikan merupakan hal yang paling utama dalam membentuk pribadi dan kompetensi seluruh warganya di masa mendatang.

 

Djakarta, 13 Maret 2013

Badan Pimpinan

Ikatan Mahasiswa Djakarta

2012-2013

 

follow @IMADA55

Web: imada55.com

FB: BadPim IMADA

Email : badan.pimpinan_imada55@yahoo.com

 

Merenungi Kepergian Pak Harto January 30, 2008

Posted by BP IMADA 2007 - 2009 in National News.
add a comment

PEziarah bersimpuh di makam soeharto

Setelah di rawat di RSPP selama 24 hari, pada hari minggu 27 Januari 2008 tepatnya pukul 13:10 WIB seorang mantan Presiden sekaligus Jenderal bintang lima telah meninggal dunia karena komplikasi multi organ tubuh yang dideritanya. Lalu ucapan belasungkawapun mulai berdatangan seakan tiada henti. Mulai dari pelosok Desa hingga Ibu Kota, mulai dari masyarakat, pengusaha, pejabat hingga Presiden SBY yang rela meninggalkan Konferensi Internasional Menentang Korupsi, atau Konferensi ke II Negara-Negara Pihak Konvensi PBB Menentang Korupsi (UNCAC) di Bali demi melihat jenazah pak Harto. Ucapan-ucapan belasungkawa yang dalam seakan terucap tulus dari setiap orang yang mengatakannya, seakan beliau adalah pahlawan yang begitu hebat di negeri ini dimana setiap langkah, tindakan, pikiran hingga setiap keputusannya dianggap sebagai jasa-jasa tak ternilai bagi pertiwi ini.
Berbagai pencitraan media massa ditujukan kepada soeharto sebagai suatu hasil yang positif yang diraih selama masa hidupnya dan masa kepemimpinannya sebagai seorang Presiden Republik Indonesia . Bahwa memang betul Jenderal Soeharto tergabung dalam KENIL, BKR, PK dan TNI. Bahwa memang betul Soeharto ditugaskan untuk memimpin pasukan merebut Ibu Kota Yogyakarta dari Belanda, bahwa memang betul Soeharto bersama tentara lainnya ditugaskan untuk merebut Irian Barat dan menggagalkan Negara boneka Belanda, bahwa memang betul Jenderal Soeharto menerima penghargaan dari Presiden Soekarno, bahwa memang betul diawal kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia, Soeharto berhasil melakukan swasembada pangan. Namun apakah dapat dikatakan sebagai sebuah kebetulan berbagai peristiwa seperti Kedung Ombo, Talangsari, Haor Koneng, DOM Aceh, DOM Papua, Tj Priok, Marsinah, Wiji Tukul, 15 Januari, Petrus, Timor Timur, paraku, hutang luar negri 180 trilyun U$D, 27 Juli, Semanggi I, Semanggi II, Trisakti dan masih banyak lagi yang kesemuanya itu terjadi di masa kepemimpinannya.
Sikap spontanitas dan reaksioner yang dikatakan oleh Hatta Rajasa selaku wakil pemerintahan SBY-JK menyatakan kepada seluruh kalangan untuk menaikan bendera setengah tiang dan memberikan 7 hari belasungkawa nasional. Mungkin Jenderal Soeharto pantas diperlakukan hormat atas jasanya sebagai mana dulu dia menghormati lawan-lawan politiknya, mungkin Jenderal Soeharto pantas dimaafkan sebagai mana dulu beliau memaafkan lawan-lawan politiknya, mungkin selama sakit Jenderal Soeharto pantas mendapat perawatan yang baik sebagai mana dulu perawatan yang diberikan kepada mantan presiden sebelumnya.
Namun perlakuan pemerintah setelahnya kepada Jenderal Soeharto sungguh sangat ironis dan menyedihkan. Mulai dari Habiebie, Abdurahman Wahid, Megawati sampai SBY, Jenderal Soeharto diperlakukan seperti tikus busuk yang selalu ditutup-tutupi agar baunya tidak mengganggu orang lain. Bagai mana tidak, setiap persoalan-persoalan hukum mantan Presiden Soeharto harus diasingkan dari meja hijau, berbagai tindakan presiden setelahnya justru membendung berbagai persoalan yang dialami mantan Presiden Soeharto agar tidak mendapatkan jalan keluar. Bahkan melalui Surat Keputusan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3), SBY justru memberikan perlakuan buruk kepada pak Harto yang sedang berlumuran Lumpur hitam dari comberan dengan tidak membersihkannya.
Seharusnya kita yang merasakan jasa-jasa beliau dapat meringankan penderitaannya di akhirat dengan cara mengadilinya di dunia serta memberikan hukuman yang pantas agar beliau tidak mendapatkan pengadilan ganda di alam kuburnya. Seharusnya kita dapat memberikan status bersalah atau tidaknya di pengadilan dunia sehingga kelak di akhirat tidak perlu lagi pemberian status bersalah atau tidaknya beliau. Semoga kita yang hidup dapat berjiwa pahlawan dan mencontoh apa yang pernah dilakukannya dahulu dengan cara memberikan penghormatan terakhir yang pantas untuknya karena pahlawan tidak membunuh pahlawan lainnya, pahlawan tidak mambunuh rakyatnya, pahlawan tidak memperlakukan secara buruk rakyat yang dicintainya, pahlawan tidak menyiksa rakyatnya dan seorang pahlawan sejati selalu menghargai jasa-jasa pendahulunya seperti seorang pahlawan bernama Soeharto yang selalu menghargai jasa-jasa seperti bung Karno dan Tan Malaka.
Mungkin Soeharto merupakan suami yang baik bagi isterinya, mungkin Soeharto merupakan bapak yang baik bagi anak-anaknya, mungkin soeharto merupakan pemimpin yang baik bagi tentara, pemilik modal, GOLKAR serta kroni-kroninya. Untuk itu marilah kita doakan agar Jenderal Haji Mohamad Soeharto agar diberikan tempat yang pantas di sisinya. “Amien”.
Sidik – IMADA 2007