jump to navigation

Calon Hakim Agung yang Mandul Keagungan January 15, 2013

Posted by sastraahmashogy in Badan Pimpinan IMADA, Editorial Ketua BP IMADA, Ikatan Mahasiswa Djakarta, IMADA News, Jakarta Dalam Berita.
add a comment

“Yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati, jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati,” jawab Daming dengan santai menjawab pertanyaan yang dikategorikan sensitif.

Calon hakim agung Daming Sanusi, memberi pernyataan kontroversial saat uji kepatuhan dan kelayakan 14 Januari 2013 di depan Komisi III DPR.

Jawaban kontroversial Daming ini justru membuat sontak  seluruh hadirin dengan gelak tawa dari anggota Dewan, tidak satu pun tergerak untuk menegur.

Usai fit and proper test, Daming berkilah, jawaban tersebut hanya untuk mencairkan suasana. “Saya lihat kita terlalu tegang, supaya ketegangan itu berkuranglah. Tadi kan ketawa sebentar,” jawab Daming.

Menurut Kamus Besar :

perkosa: menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi;

merogol (v)

pemerkosaan:

  • proses, perbuatan, cara memerkosa; (nomina)
  • ki pelanggaran dng kekerasan (nomina)

memerkosa

  • menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi;

merogol (v)

  • melanggar (menyerang dsb) dng kekerasan (v)

Tindak pidana perkosaan sebagaimana diatur dalam Pasal 285 KUHP: “Barangsiapa yang dengan kekerasan atau dengan ancaman memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, karena perkosaan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun”.

Mencermati Pasal 285 KUHP, perkosaan (pemerkosaan) memiliki unsur “memaksa” dan “dengan kekerasan”. Sedangkan tindak pidana pada Pasal 289 KUHP yang dirumuskan sebagai: “Dengan kekerasan atau ancaman kekerasaan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama 9 tahun”.

Maka pengertian hemat perkosaan adalah Perbuatan hubungan kelamin yang dilakukan seseorang/kelompok orang, terhadap seseorang/kelompok  orang lainnya tanpa persetujuannya, dilakukan ketika seseorang/kelompok orang lainnya tersebut ketakutan atau berada dalam kondisi terancam.

“Jadi, Bagaimana mungkin bisa menikmati suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan hati nurani (dipaksakan/terancam)?”

“Apakah Daming pernah merasakan perasaan korban dan keluarganya? Pantaskah seorang yang menjadikan perasaan dan penderitaan masyarakat sebagai bahan lelucon menjadi calon hakim agung?”

Menurut Daming pernyataan itu hanya candaan. Pernyataan tersebut sangat tidak layak dan mencerminkan rendahnya kepekaan, termasuk Anggota Dewan yang turut menertawakan lelucon rendahan Daming.

Daming Sanusi adalah salah satu contoh calon hakim agung yang mandul keagungan.

Badan Pimpinan Ikatan Mahasiswa Djakarta 2012-2013 mengecam pernyataan tersebut, dan meminta Daming mengklarifikasi pernyataannya dan segera meminta maaf kepada masyarakat, khususnya kepada korban dan keluarga tindak pidana pemerkosaan sesegera mungkin.

 

Djakarta, 15 Januari 2013

Badan Pimpinan

Ikatan Mahasiswa Djakarta

2012-2013

Shogy A. Sastranegara, S. Sos

Ketua Umum

——————————————————————————————————————————————

Sumber:

Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Merdeka.com: http://id.berita.yahoo.com/calon-hakim-agung-pemerkosa-yang-diperkosa-sama-menikmati-104526298.html

Liputan6.com: http://news.liputan6.com/read/487358/calon-hakim-agung-korban-pelaku-perkosaan-sama-sama-menikmati

detikNews: http://news.detik.com/read/2013/01/14/164657/2141754/10/pemerkosa-korban-sama-sama-menikmati-kpai-tolak-daming-duduk-di-ma?9911012

detikNews: http://news.detik.com/read/2013/01/14/191000/2141956/10/daming-calon-hakim-agung-pemerkosa-korban-sama-sama-menikmati?9911012

Kamus Besar: http://www.kamusbesar.com

Advertisements

Jokowi Harus Berikan Solusi Permanen October 31, 2012

Posted by sastraahmashogy in Badan Pimpinan IMADA, Editorial Ketua BP IMADA, Ikatan Mahasiswa Djakarta, IMADA News, Jakarta Dalam Berita.
add a comment

Jokowi Harus Berikan Solusi Permanen
Senin, 29-10-2012 02:23

 

PESATNEWS – Nama lahirnya Shogy Abdulrahman Sastranegara, tapi dia biasa disapa Sastra. Pria  kelahiran Jakarta, 15 Oktober 1986 ini dipercaya sebagai Ketua Umum Imada (Ikatan Mahasiswa Djakarta), sebuah  organisasi kemahasiswaan di Jakarta yang sudah terbentuk sejak Orde Lama.

Sastra merupakan alumnus FISIP Universitas. Dr. Moestopo jurusan Hubungan Internasional. Hobinya lumayan banyak, seperti rafting, hiking dan panjat tebing. Dia juga suka musik dan membaca.

Berorganisasi menjadi bagian hidupnya, di SMP dan SMA, Sastra pasti jadi pengurus OSIS. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini ingin jadi gubernur Jakarta. Makanya dia antusias melakukan sesuatu yang positif melalui Imada.

Mungkin masih banyak warga Jakarta yang belum akrab dengan komunitas mahasiswa ini, berikut Sovi dari Pesatnews sempat bincang-bincang dengan Sastra, berikut petikan wawancaranya.

Seperti apa sih sejarah Imada?

Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada) lahir ketika bangsa ini nyaris dikuasai komunis. Meskipun hampir tidak pernah turun ke jalan menyampaikan aspirasinya, hingga kini Imada masih eksis.

Imada terbentuk tahun 1955. saat itu itu paham komunis sedang menguasai sebagian besar organisasi masyarakat dan mahasiswa. Imada adalah salah satu organisasi mahasiswa lokal tingkat Jakarta yang menolak atau bisa dikatakan tidak setuju dengan paham komunis dan tetap mempertahankan paham pancasila.

Setiap komunitas, pasti memiliki karakter. Lantas seperti apa  “sosok” Imada itu?

Ciri khas Imada memiliki dua warna, kuning dan biru. Kuning dari warna kami itu melambangkan kemahasiswaan dan warna biru melambangkan kemasyarakatan. Lambang kami terdiri dari 2 helai bulu ayam yang melambangkan intelegensia atau intelektualitas dan ada 23 anak rantai yang melingkar menjadi satu dengan induk rantai. Jadi, total ada 24 rantai yang juga melambangkan pendiri Imada sebanyak 24 orang.

Apa kontribusi Imada untuk masyarakat?

Sesuai dengan azasnya, kemahasiswaan, kami mencoba untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dari seluruh mahasiswa yang ada di Jakarta dan mencoba untuk mengabdikan diri terhadap pendidikan yaitu kami sebagai akademisi lebih tepatnya mengabdikan diri kami sebagai mahasiswa terhadap pendidikan di tanah air dan kami mencoba untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan seperti seminar, bikin kursus gratis, berbagi ilmu bertemu dengan senat-senat di universitas yang ada di Jakarta.

Program apa yang sedang berjalan?

Kini melakukan program Pemuda Peduli Djakarta berupa penyuluhan dan pengobatan gratis terhadap masyarakat di Jakarta. Pada tahun 2011 lalu kami menjalankan program ini dengan tema “Kesehatan dan Sumpah Pemuda” di daerah Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pengobatan itu tidak hanya untuk penyakit umum tetapi juga penyakit gigi. Jadi, kita bekerja sama dengan mahasiswa-mahasiswi FKG Moestopo dan FK UPH.

Bicara tentang mahasiswa, tidak lepas dari aksi unjuk rasa. Tapi Imada nyaris tidak tampak turun ke jalan. Kenapa?

Imada memang tidak berhaluan demo. Kami lebih cenderung mencoba untuk menyampaikan aspirasi melalui cara-cara yang lebih intelektual misalnya, melalui seminar.

Jadi, kami ingin mengkritisi pemerintahan, terhadap masyarakat, terhadap keadaan atau situasi dan kondisi negeri ini, kami mencoba menyampaikan melalui haluan yang lebih diplomatis.

Kami tidak bilang demo itu tidak baik, hanya saja Imada tidak menggunakan cara tersebut. Kami menggunakan hal-hal yang lebih persuasif, intelek sesuai lambang kami dan mencoba menarik perhatian masyarakat serta pemerintah dengan cara-cara yang lebih persuasif. Tujuannya sama, caranya yang berbeda.

Sebenarnya apa saja yang diharapkan mahasiswa?

Yang pertama, perhatian pemerintah terhadap pendidikan, contohnya saja anggaran untuk subsidi pendidikan sangat rendah terutama pada tingkat fakultas. Sehingga biaya perkuliahan sangat mahal. Akibatnya banyak mahasiswa yang berhenti kuliah.

Bahkan, ada juga adik-adik kita yang masih SMA itu tidak dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan karena biaya yang sangat mahal. Sudah saatnya pemerintah bisa lebih memperhatikan pendidikan, karena pendidikan itu adalah masa depan bangsa.

Seandainya tingkat pendidikan mahasiswa sekarang kurang baik kualitasnya, sudah dapat dipastikan nantinya masa depan kita akan kalah saing dengan mahasiswa dan mahasiswi dari luar negeri.

Kini Jakarta sudah punya gubernur baru, apa harapan Imada?

Saya mengucapkan selamat atas terpilihnya bapak Jokowi dan bapak Basuki Tjahaya Purnama karena telah dipilih oleh masyarakat Jakarta.

Imada sangat berharap kepada Pak Wi (Jokowi) dan Pak Ahok (Basuki) dapat melakukan perbaikan dan pembaharuan di Jakarta dari transportasi, pendidikan, kebersihan, infrastruktur pemerintahan, dan berbagai hal birokrasi-birokrasi yang harusnya bisa lebih diperbaiki dan tentunya bisa dapat mempermudah.

Kami harap Gubernur dan Wakil Gubernur ini bisa dapat mendisiplinkan aparatur pemerintah di tingkat Jakarta, dari tingkat pusat Jakarta sampai tingkat paling rendah yaitu RT.

Saya juga berharap Pak Wi dan Pak Ahok dapat memperbaharui dan menetapkan undang-undang ataupun ketetapan yang bisa lebih mempermudah gerak masyarakat Jakarta untuk memperbaruhi seluruh catatan sipilnya.

Kami yakin jika seluruh catatan Sipil sudah lengkap dan rapih akan mempermudah Pemda Jakarta untuk memperbaiki fasilitas, sarana dan prasarana ataupun kebutuhan-kebutuhan yang bisa diberikan kepada masyarakat Jakarta itu sendiri.

Anda punya saran untuk Gubernur?

Saya berharap pemerintah mempunyai cara yang lebih baik daripada sekedar saran dari saya, punya kebijakan yang jauh lebih baik dan solusinya itu permanen dan tidak sementara. Permanen untuk 100 tahun ke depan. Agar seluruh pemerintahan DKI Jakarta ini bisa melaksanakan pembangunan secara berkelanjutan. Jangan sampai sudah Berganti Gubernur, program kerja yang dijalankan oleh Gubernur sebelumnya tidak kembali diteruskan dengan alasan “bukan program kerja saya” karena itu merupakan jawaban yang sangat tidak intelek.

Seharusnya, program kerja pemerintah itu kontinuitas dan juga mampu diselesaikan dengan batas waktu yang ditentukan sehingga pembangunan di Jakarta ini tidak terhambat, tepat waktu dan juga maksimal. [*]

http://www.pesatnews.com/read/2012/10/29/15160/jokowi-harus-berikan-solusi-permanen