jump to navigation

Sejarah & Jenis Organisasi Kemahasiswaan

Pengantar: Tulisan ini  judul aslinya “Senat Mahasiswa Mengabdi” yang terdapat dalam buku Menegakkan Wawasan Alma Mater karya Prof. Dr. Nugroho Notosusanto (Rektor UI 1982-1985), penerbit UI Press tahun 1983.

Salah satu yang sering ditanyakan kepada saya sejak saya menjadi Rektor, adalah mengenai pandangan saya tentang peranan yang seharusnya dimainkan oleh senat-senat mahasiswa pada fakultas-fakultas dalam lingkungan Universitas Indonesia (UI). Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, barangkali ada baiknya jika saya memberikan suatu sketsa mengenai senat mahasiswa sebagai unsur kemahasiswaan.

Latar Belakang Sejarah

Secara historik kita lihat adanya dua macam organisasi mahasiswa berdasarkan lingkungan kegiatannya, yakni:

1. Organisasi mahasiswa extrauniversiter (organisasi extra)
2. Organisasi mahasiswa intrauniversiter (organsasi intra)

Menurut sejarah, yang lebih dulu ada di Indonesia adalah organisasi extra yakni pada jaman Hindia Belanda. Sedangkan organisasi intra sejauh pengetahuan saya baru baru ada pada jaman kemerdekaan.

Organisasi federatif yang pertama juga timbul dalam lingkungan organisasi extra, yakni Persatuan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Sedngkan organisasi federatif di dalam lingkungan organisasi intra, yakni Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) baru kemudian timbulnya.

Organisasi mahasiswa extra yang pernah ada di Indonesia dapat dibagi atas 3 jenis, yakni:

a. yang berdasarkan agama

b. yang berdasarkan politik partai/golongan

c. yang berdasarkan lokalitas.

Contoh daripada jenis pertama adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan lain-lain.

Contoh daripada jenis kedua adalah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (GM Sos), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), dan lain-lain.

Contoh daripada jenis ketiga adalah  Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD),  Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada), Persatuan Mahasiswa Bandung (PMB), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB) dan sebagainya. Masih ada satu perhimpunan yang tidak dapat digolongkan kepada ketiga jenis tersebut, yakni organisasi bagi golongan keturunan asing, dan sejauh pengetahuan saya hanya ada satu, yakni Ta Hsueh Hsueg Sheng Hui yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Perhimi).

Sedangkan senat-senat mahasiswa yang pertama yang pernah dibentuk, sejauh ingatan saya, adalah pada fakultas-fakultas pada dua universitas negeri yang tertua, yakni Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia. Saya mengalami pembentukan senat mahasiswa di lingkungan Universitas Indonesia, yakni pada Fakultas Sastra pada tahun 1951 dengan (Dr.) Subardi sebagai ketuanya yang pertama dengan saya sebagai  wakil ketua. Pada tahun berikutnya saya menggantikan Subardi menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sociaal Wezen dan Studerend Wezen

Sejak semula ada hubungan persaingan antara organisasi extra dengan organisasi intra. Namun secara tidak disadari, makin lama tercipta suatu keseimbangan antara persaingan di satu pihak dengan semacam pembagian pekerjaan pada pihak lain. Pembagian pekerjaan itu tidak terlalu tajam, namun akhirnya dapat dirumuskan sebagai perbedaan titikberat. Oorganisasi extra lebih menitikberatkan kepada kehidupan mahasiswa sebagai sociaal wezen (makhluk sosial), sedangkan organisasi intra lebih meletakkan titiberat pada kehidupan mahasiswa sebagai studerend wezen (mahluk belajar). Pada waktu itu bahasa Belanda masih dipakai sebagai bahasa-kuliah, sehingga masih banyak istilah yang tertulis di dalam bahasa Belanda.

Pada waktu struktur itu terbentuk, kita masih hidup dalam suasana politik yang liberalistik. Hal itu pada tahun 1950-an sangat terasa, terutama di Jakarta dan Bandung, dua kota yang pada jaman kolonial merupakan pusat masyarakat Belanda di Indonesia Selama jaman perang kemerdekaan kedua kota itu pada tahap yang dini dalam konflik itu menjadi tempat konsentrasi kekuasaan militer dan dengan demikian juga menjadi tempat pemusatan kekuasaan politik kaum kolonialis Belanda.

Pada tahun 1950-an itu masyarakat mahasiswa di Jakarta terdiri atas dua komponen dilihat dari sudut langgam hidupnya, yakni yang pertama mahasiswa yang sejak semula tinggal di kota itu, dan kedua adalah mereka yang baru masuk ke Jakarta dari pedalaman. Golongan kedua ini dibandingkan dengan golongan yang telah lama menetap di Jakarta, pada umumnya menderita kekurangan sarana-sarana belajar. Suasana belajar di daerah pedalaman sudah barang tentu lain daripada di Jakarta. Kota-kota perguruan tinggi di daerah pedalaman seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan lain sebagainya diliputi suasana perang yang terus menerus. Sedangkan Jakarta, meskipun tidak juga sepenuhnya bebas dari konflik bersenjata, namun tidak terancam akan menjadi daerah-tempur.

Di daerah pedalaman buku-buku juga langka, peralatan laboratorium serba kurang. Dan yang juga terasa: suasana studi yang sempurna tidak terdapat di daerah pedalaman itu. Karena itulah mahasiswa yang berasal dari daerah pedalaman ini pada umumnya lebih mementingkan studi san uapaya melengkapi sarana studi daripada soal-soal lain. Karena itu kebanyakan diantara mereka aktif di dalam organisasi intra yang lebih  memusatkan diri pada persoalan-persoalan studi.

Tambahan pula, banyak diantara para mahasiswa yang datang dari daerah pedalaman itu bekerja sambil belajar. Orangtua mereka yang pada umumnya adalah pegawai-pegawai Republik yang baru keluar dari daerah pedalaman, atau bahkan masih ada di sana, juga masih serba kekurangan dana. Boleh dikatakan semua orang tua itu dari golongan non yang menolak bekerja pada pemerintah pendudukan Belanda. Sebagai werkstudent atau mahasiswa kerja, para mahasiswa golongan ini, tidak banyak mempunyai waktu-luang untuk kegiatan-kegiatan extra-kurikuler, yang kebanyakan diselenggarakan oleh organisasi extra.

Extra dan Intra

Kegiatan organisasi intra meliputi studi maupun rekreasi. Tetapi karena bidang studi masing-masing anggota berbeda-beda, maka kegiatan studi tidak begitu merata. Ada kecenderungan, bahwa anggota-anggota sefakultas saja yang berkumpul-kumpul  untuk keperluan tenteren atau mencari mentor. Dengan demikian para anggota mencari kepuasan lain pada organisasi-organisasi extra; organisasi agama, yang dicari adalah kepuasan batin di bidang agamanya masing-masing, pada organisasi politik yang dicari adalah kepuasan  dalam kehidupan politik, sedangkan pada organisasi lokal, lebih dicari adalah rekreasi dan keseronokan atau gezelligheid.

Karena organisasi extra ini berdasarkan sistim keanggotaan aktif (artinya para anggota itu secara aktif melamar untuk menjadi anggota), maka untuk dapat diterima menjadi anggota secara ikhlas mereka menjalani perpeloncoan atau inisiasi. Lain halnya dengan organisasi intra, yang memakai sistim keanggotaan pasif, artinya siapa saja yang terdaftar menjadi mahasiswa tertentu daripada universitas tertentu, dengan sendirinya diakui sebagai anggota ”keluarga mahasiswa” fakultas atau universitas yang bersangkutan. Karena itu pada tahun 1950-an itu tidak ada perpeloncoan pada organisasi intra.

Akan tetapi dengan langgam berpolitik pada jaman Demokrasi Liberal, yang berdasarkan persaingan bebas, partai-partai politik secara aktif mencari pengaruh dan bahkan mencari pengikut di dalam kampus; suatu hal yang mengundang reaksi dari mereka yang (menurut istilah sekarang) berjiwa Alma Mater. Reaksi itu ada dua macam, pertama reaksi yang disebut depolitisasi, artinya sikap yang menjauhi dan bahkan men-tabukan politik di dalam lingkungan kampus. Dan kedua adalah apa yang saya sebutkan transpolitisasi, yakni kegiatan mempelajari politik supaya tidak dapat ditunggangi kaum politik yang menyerbu kampus-kampus untuk mencari pengaruh dan pengikut. Namun barangsiapa ingin melakukan politicking, harus melakukannya di luar kampus.

Karena hasrat kelompok transpolitis untuk berorganisasi dalam rangka memperoleh apa yang sekarang disebut pendidikan politik, maka kemudian senat-senat mahasiswa diperkuat dan dikoordinasi dengan sebuah dewan mahasiswa. Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia dibentuk pada tahun 1954 dan dengan itu dimasukilah era baru di dalam Pergerakan Mahasiswa Indonesia. Karena pada waktu itu yang hampir bersamaan terbentuklah pula Dewan Mahasiswa Universitas Gajah Mada.

Karena kaum transpolitis, berbeda dengan kaum apolitis, adalah orang-orang yang tidak buta politik, bahkan cukup banyak yang sadar politik, meskipun politiknya adalah ”politik” dengan ”P” besar atau politik nasional, bukan politik partikularistik berdasarkan afiliasi partai atau golongan, maka timbullah sikap menyaingi organisasi extra. Sikap menyaingi itu antara lain diungkapkan dengan mengadakan perpeloncoan di dalam kampus bagi mahasiswa baru. Dengan demikian banyak mahasiswa yang lalu tidak merasa perlu untuk juga menjadi anggota organisasi extra. (Mereka cukup diplonco satu kali saja!)

Namun organisasi extra tidak tinggal diam. Karena mereka disaingi oleh organisasi intra, maka apa yang mereka lakukan? Mereka menyusup ke dalam tubuh organisasi-organisasi intra itu, baik pada tingkatan senat mahasiswa maupun pada tingkatan dewan mahasiswa. Menyusupnya adalah dengan memperjuangkan supaya jagonya menang pada pemilihan pengurus. Caranya ada yang halus, artinya dengan cara ”tahu sama tahu”, tetapi ada juga yang secara terang-terangan berkampanye untuk calon yang menjadi anggotanya.

Setelah berhasil duduk dalam pengurus, tokoh-tokoh extra itu pada umumnya lalu memainkan bloc within di dalam masing-masing organisasi intra. Dengan demikian lambat laun politicking kembali ke kampus! Dan akhirnya seluruh kampus dalam politicking, suatu perkembangan yang mencapai puncaknya pada tahun 1970-an. Dalam periode ini telah pula berkembang suatu gejala dalam kehidupan politik Indonesia yakni organisasi tanpa bentuk. Di samping kekuatan-kekuatan politik yang terorganisasi secara formal, terdapat pula kekuatan-kekuatan politik yang tidak terorganisasi secara formal, namun dampak kegiatannya terasa di kampus. Sebagai akibat kombinasi politisasi dan depolitisasi kampus, banyak mahasiswa Universitas Indonesia terpengaruh olehnya. Baru sejak dilaksanakannya transpolitisasi, mahasiswa Universitas Indonesia  dapat membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh external yang negatif itu dan kembali kepada kesetiaannya kepada Alma Mater.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: