jump to navigation

IMADA GOES TO 55 JAHREN September 7, 2009

Posted by BP IMADA 2007 - 2009 in Uncategorized.
add a comment

 

 

AHOI!

Sungguh tak terasa Organisasi yang kita cintai ini akan berusia 55 Jahren (55 Tahun). Imada didirikan tahun 1955.

Jatuh bangun sudah sering dialami Imada, kini titik balik sedang dijalani menuju kejayaan Imada kembali. Itu semua karena komitmen kita bersama, para Senioren dan para Aktivis-nya saat ini.

Mari kita lontarkan ide dan harapan terhadap Organisasi kita ini kedepannya. Melalui topik “Imada Goes to 55 Jahren” lontarkan ide dan harapan Anda para Imadawan/ Imadawati, kegiatan/ event apa yang akan dibuat Imada dlm rangka memperingati 55 Jahren berdirinya Organisasi yang kita banggakan ini yang juga menjadi kebanggan masyarakat kota Djakarta dan bangsa Indonesia pada umumnya.

“Vayam Maha Saubhagya Vamsah”

AHOI!

Freddy Siahaan (Ahoi 1987)


Budaya Kita = Budaya Ribut September 7, 2009

Posted by BP IMADA 2007 - 2009 in IMADA News, SOMAL Links, Wisdom.
1 comment so far

Budaya Kita = Budaya Ribut

Oleh : Chossie (Mantan KETUA BP IMADA – SEKJEN SOMAL)

Budaya tidak semata-mata  sebuah warisan. Karena budaya merupakan hasil pola pikir manusia, dan manusia terus mengalami perkembangan, maka jadilah budaya itu sebagai hasil dari pola pikir manusia  yang terus menerus berkembang. Atau dengan istilah lain, budaya adalah hasil dari kemajuan berpikir manusia. Di jaman sekarang, hal semacam itu sering terjadi, namun bahasanya berbeda. Hal semacam itu disebut kemajuan teknologi. Bangsa ini dikatakan berbudaya jika ia bisa berada paling tidak sejajar dengan kemajuan jaman. Suatu kondisi di mana ia bisa memenuhi segala sesuatu di jamannya.  Ketika itu terjadi, maka oleh generasi yang akan datang disebut sebagai warisan budaya bangsa. Ketika akan dirawat dan dipelihara, ia menjadi cagar budaya.  Bagi generasi yang akan datang ia tak lebih dari seonggok tumpukan batu,  potongan sebilah bambu, selembar kulit bergambar yang ditatah, secarik kain bermotif dengan proses berbelit, sepetak tanah di tengah samudra  atau sebuah lirik dengan notasi sederhana. Semuanya dibungkus dengan sebutan warisan budaya.

Tak ada yang keliru sampai di situ, karena terkesan kuno jika ditampilkan, dipentaskan atau dimainkan dijaman yang sedang berjalan. Kita semua beranggapan itu persoalan kemarin, terabaikan dan nyaris tak tersentuh berhenti di pelestarian. Dilestarikan namun tak diwariskan, tak disadarkan akan hak apalagi mendapatkan ruang untuk tampil. Kita hanya mengerti bahwa  semua itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, namun tak pernah kita pahami mengapa ia hadir di masa lalu. Kita membiarkan semua itu menjadi otoritas sejarawan, budayawan serta dinas purbakala, biarlah semua itu diurus oleh yang berwenang. Situasi ini yang akhir-akhir ini membuat kita semua kaget, bahwa sesuatu yang namanya kemajuan teknologi telah dengan selamat dan sukses memanfaatkan apa yang seharusnya menjadi milik dan hak kita. Mereka dengan tangkas memanfaatkan kemajuan teknologi yang mereka kuasai untuk merampas budaya yang sampai hari ini hanya kita lestarikan. Kita dikagetkan oleh segelintir anak bangsa yang mampu menguasai dan memiliki internet dan mereka kabarkan kepada kita kabar yang membuat kita kaget, lantas ribut.

Di sini baru  tampak bahwa ada yang keliru pada kita, karena kita kaget dan lantas ribut.  Kita menjadi keliru karena setelah kaget tak lantas sadar.  Kita  tak sadar bahwa kita adalah kontributor terbesar dari selamat dan suksesnya perampasan itu. Karena budaya tak semata-mata otoritas budayawan, sejarawan apalagi dinas purbakala. Budaya itu ada di dalam rumah kita,  di dalam keluarga kita dan tak boleh kita pasrahkan pada  para sejarawan, budayawan atau dinas purbakala. Budaya juga bukan sekedar barang pameran, materi iklan apalagi thema-thema seminar yang hanya dijinjing kesana-kemari. Jika hal itu terjadi, maka kita akan hanya menghasilkan pengamat budaya, ahli sejarah serta pakar pelestarian. Kita tak akan mewarisi budaya dan kelak suatu hari nanti kita akan kaget lantas ribut lagi, dan kita tak pernah sadar.

Sekarang kita tak boleh lagi hanya kaget lantas ribut. Kita harus segera berubah agar tak tertinggal oleh jaman, karena jaman tak pernah bisa dihentikan. Kita, itu artinya keluarga, budayawan, sejarawan, dinas purbakala serta aparat pemerintah lainnya harus segera memberikan ruang, memberikan perhatian, memberikan waktu agar kita dapat segera dapat berperan untuk dapat mempertahankan hak kita.  Karena kedaulatan itu tak hanya soal tapal batas dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Tapi kedaulatan juga berada dalam kemajuan pikiran kita. Berikan ruang dan waktu agar kita tak hanya sekedar berjumpa namun tak pernah bertemu. Mari kita segera berbudaya dengan memberikan kesempatan sepenuh-penuhnya untuk merangsang pikiran-pikiran yang maju mendahului jaman.

5 September 2009

Sentul City, Bogor – Jawa Barat

Spanduk IMADA HUT Jakarta 482 September 3, 2009

Posted by BP IMADA 2007 - 2009 in IMADA News.
add a comment

Pada bulan Juni Lalu.. Jakarta merayakan Ulang Tahun nya yang ke 482..

IMADA (Ikatan Mahasiswa Djakarta) sebagai satu-satu nya Organisasi Lokal yang masih eksis sampai sekarang merasa perlunya menghimbau warga Jakarta untuk Tertib,  Aman & Nyaman ..

Himbauan di maksud kami (BP IMADA 2007 – 2009) tuangkan kedalam spanduk-spanduk yang kami sebar di jalanan Ibukota..

Ada puluhan spanduk yang kami sebar di titik-titik strategis Ibu kota..

Estimasi kami adalah 1 Minggu spanduk tersebut sudah akan di bersihkan oleh trantib. Apalagi di masa-masa Kampanye PEMILU Kemarin..

Spanduk kita bersaing dengan spanduk Capres & Cawapres…

Namun prediksi kami meleset.. Spanduk- spanduk tersebut bahkan masih ada yang tetap terpasang..

Spanduk kita yang paling lama adalah di titik Wijaya – Jakarta Selatan di dekat Lampu Merah Sekitar 500m dari walikota Jakarta -Selatan. Terakhir masih berjajar dengan spanduk himbauan berantas terorisme..

Sudah hampir 2 Bulan.. Entah sebab apa yang membuat spanduk kita “terlewat” oleh trantib.. Padahal di samping kiri kanan spanduk2 himbauan sejenis sudah silih berganti…

Ini Beberapa Titik Spanduk yang sempat di abadikan :

Titik Tendean

Titik Wijaya – Interstudi

Titik Wijaya

Gunung Gede Part III Air Panas & Kandang Badak September 3, 2009

Posted by BP IMADA 2007 - 2009 in IMADA News.
add a comment

Gunung Gede Part III Air Panas & Kandang Badak

Waktu menunjukkan pukul 10.56.. Akhirnya kita beristirahat di lebak saat. Sibuk mencari air untuk masak,  sempat ragu memakai air dari air panas dekat tempat kami beristirahat karena mengandung belerang. Namun Bismilah saja lah.. Kata kita semua..

Sudah kesekian kalinya kami memasak nasi selalu tidak matang. Hmm.. Makan nasi setengah matang sudah jadi tradisi pendakian kita di Gn Gede.

Setelah perut terisi sosis, indomie, kornet.. Kita siap untuk melanjutkan pendakian..

Beberapa puluh langkah kemudian.. kita menyusuri tepian tebing yang di bawah kaki kita meluncur dengan deras air panas yang cukup mengangetkan kaki kita..

Pada pukul 14.20 wib.. Kita sampai juga di Kandang Badak. Di pos Kandang Badak, banyak sekali tenda2 para pendaki. Inilah keadaan gunung Gede, dimana mungkin satu-satunya di Indonesia Gunung seperti Hotel saja.. Harus reservation tempat kalo mau mendaki. Dikarenakan jumlah pendaki yang sangat banyak.

Di Gunung Gede hari itu ada 2 orang yang menjadi sorotan utama…

Pertama.. Senior kita yang bernama Utun Leman.. Di karenakan usia sudah cukup lanjut.. Namun masih bisa mengimbangi kita yang muda2..Banyak pendaki lain selalu takjub bila melihat senior kita yang satu ini..

Kedua adalah seorang anak bayi yang  diajak mendaki ole orang tuanya…

Setelah beristirahat sejenak dan mengambil persediaan air minum.. Pukul 15.00 Wib kami melanjutkan pendakian…

Next destination adalah tanjakan setan..

To Be Continued…

Tanjakan Setan, Puncak & Penyematan Pin IMADA.