BUKU, PESTA, CINTA & KARYA
Refleksi terhadap Buku, Pesta, Cinta dan Karya
sebagai sub-moto IMADA
Seperti yang telah kita ketahui bahwa Buku, Pesta, Cinta dan Karya adalah bagian dari moto dalam organisasi yang telah berdiri semenjak 1955. Entah mengapa para leluhur kita memilih kalimat diatas sebagai moto, mungkin jawabannya adalah karena semua anak muda dan mahasiswa tidak dapat terlepas dari keempat hal tersebut.
BUKU

Dahulu, buku yang kita baca telah difilterisasi oleh rezim yang berkuasa. Tidak hanya buku saja, mulai dari koran, majalah hingga materi pelajaran di sekolah-sekolah dan universitas telah dikondisikan isinya sesuai dengan kepentingan mereka. Minimnya sumber bacaan terutama yang bersifat mengkritisi pemerintah dan berbau komunis dilarang beredar. jika ada yang tertangkap memiliki buku-buku atau bahan lainnya, pastilah mereka akan berhadapan dengan dinginnya lantai penjara dan sempitnya jeruji besi. tak sedikit pula para pengarang buku yang dipasung kreatifitasnya karena karya yang dihasilkannya seperti Wimanjaya, Abya Siamka, Pramoedya A.T., Hasta Mitra, Imran Hasibuan, Soebadio S dan lain sebagainya. Namun dengan jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998, kontur Indonesia banyak mengalami perubahan. Terserah bagaimana anda mengartikan perubahan tersebut namun yang pasti banyak terjadi kemajuan dikalangan para penerbit buku. Munculnya para penulis baru, penerbit baru hingga pembaca baru turut mewarnai perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kegunaan dari buku adalah untuk dibaca. Bukan begitu bukan? terlepas buku dirumah anda dipergunakan untuk pelangkap hiasan dalam lemari atau haya sekedar penganjal meja dan pengahangat ruangan dikala musim dingin tiba. Kalau ingat kalimat membaca maka yang terlintas dikepala saya dengan cepat seperti F-16 dalam sebuah perayan hari besar TNI, adalah sebuah iklan layanan masyarakat di televisi yang di bintangi tantowiyahya mengatakan (kurang lebih seperti ini), “orang yang tidak banyak tahu adalah orang yang tidak banyak membaca, orang yang tidak membaca adalah orang yang kurang informasi, orang yang kurang informasi adalah orang yang dekat dengan kebodohan, kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan.”
Dengan berkembangnya kebebasan dan kemajuan demokrasi bangsa saat ini, ternyata tidak memberikan jaminan terhadap meningkatnya minat membaca terutama dikalangan kaum muda. Mahalnya harga buku dan tingkat buta huruf yang masih tinggi merupakan salah satu yang melatar belakanginya. Menurut saya, ada beberapa faktor yang melatar belakangi minat membaca seseorang.
- Rasa keingin tahuan seseorang terhadap suatu hal
- Kemauan dalam mengeksplorasi dan mengimprovisasi
- Kebutuhan seseorang yang mengharuskan dia membaca
- Kemampuan secara ekonomis atau finansial seseorang untuk membeli bahan bacaan
Lalu apa korelasi Buku dangan organisasi yang bernama Ikatan Mahasiswa Djakarta? jawabannya tentu ada. Hanya dengan membaca buku, individu-individu organisasi ini dapat berkembang, hanya dengan membaca buku, kita sebagai bagian dari organisasi dapat meraih apa yang kita cita-citakan, hanya dengan membaca buku, kita dapat memprediksi masa depan, hanya dengan membaca buku, kita dapat memenangkan persaingan, hanya dengan membaca buku, kita dapat mengetahui dunia, hanya dengan membaca buku, kita tidak tertinggal zaman. Banyak sekali yang kita dapat hanya dengan membaca buku. Dengan hadirnya era teknologi dan globalisasi, keterbatasan untuk membeli buku dan informasi dapat teratasi melalui media internet yang menyajikan beragam informasi pengganti buku. Sebagai mana senior Rocky gerung dalam LTC 2007 berkata “Kita sebagai Ikatan Mahasiswa Dajakarta seharusnya mempersiapkan amunisi di otaknya sebagai bekal perang nanti, karena esensi kehidupan ini adalah perang”, baik itu perang eksistensi, perang dalam melawan kezaliman, perang melawan hawa nafsu dan menurut saya perang melawan peradaban. Jadi, gunakanlah buku sebagai referensi senjata dalam berorganisasi.
PESTA

Di negara yang sedang mengalami masa transisi dari tirani ke demokrasi ini, mahasiswa imada seharusnya berpesta demokrasi dengan menggunakan hak-hak politiknya (termasuk meminta pertanggung jawaban dari pemerintah) dan dengan memberikan berbabagi kritik-krtik yang konstruktif pada sistem pemerintahan yang sedang kita jalankan, bukan malah larut dalam hegemoni dengan cara melacurkan diri terhadap kekuasaan, bukan malah larut dalam hedonitas peradaban, bukan malah berpesta seperti penguasa-penguasa yang mendzalimi rakyatnya. Kita seharusnya berpesta terhadap kebebasan yang telah dibayar dengan tetesan keringat, darah dan air mata dengan tetap memberikan peringatan dan perlawanan terhadap para peguasa yang telah berpesta diatas penderitaan rakyatnya. apakah kita harus berpesta seperti angota dewan dan pejabat berpesta di kamar-kamar hotel dengan didampingi artis-artis penyanyi dangdut dan para gundik-gundik mereka yang lain? apakah kita harus berpesta seperti istri-istri angota dewan dan pejabat berpesta dengan membelanjakan uang hasil korupsinya? apakah kita harus berpesta seperti anak-nak anggota dewan dan pejabat berpesta dengan manghambur-hamburkan uang dan menyalah gunakan kekuasaan orang tuanya? jawabannya adalah TIDAK, pesta yang kita selenggarakan adalah pesta kemenangan terhadap kemajuan yang telah kita raih, pesta yang kita rayakan adalah pesta keberhasilan dalam menghancurkan keterpurukan, pesta yang kita rayakan adalah pesta sebagai ungkapan rasa syukur terhadap sesama dan sang pencipta karena telah diberi kesempatan dalam hidup. Dan esensi pesta yang ada di IMADA adalah pesta kebahagiaan dalam menyongsong kehidupan organisasi kearah yang lebih baik.
CINTA

Cinta…? apakah cinta yang dimaksudkan adalah perasan atau hasrat yang sangat mengebu-gebu antar lawan jenis sehingga dengan berbagi upaya dan retorika berusaha untuk meyakinkan perasaannya lalu berakhir dengan ejakulasi?…
Mudah-mudahan para IMADAwan dan IMADAwati tidak seperti ini… amien.
Saat ini berbagai macam penderitaan sedang dirasakan jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari kelaparan, serangan penyakit, bencana, hingga kesulitan ekonomi dan rakyatpun hanya menerima janji-janji dari politisi. Lalu dimana letak Cinta yang katanya suci nan tulus tersebut?… Jawabanya tentu tidak termaktub dalam AD ART atau Peraturan Organisasi lainnya. Jawabannya ada dihati kita sebagai individu-individu organisasi yang masih mempunyai ketulusan hati.
KARYA

Karya, kenapa karya diletakan pada urutan tangga lagu ke-4 dalam chart Mtv ala AHOI? karena dari hasil proses dialektika antara Buku, Pesta dan Cinta akan menghasilkan sebuah karya, lantas sudahkah kita sebagai individu organisasi berkarya untuk IMADA? Terkadang banyak Senior dan Seniorita menceritakan sepak-terjang IMADA dan keberhasilan yang mereka raih di zamannya. Wajar saja kalau mereka selalu membicarakan romantisme masa lalu karena di zamannya mereka banyak memciptakan karya-karya yang imajinatif yang ter-realisasikan menjadi karya yang spektakular, selanjutnya apakah kita harus terjebak dalam hegemoni romantisme tersebut?… apakah kita juga harus menularkannya pada generasi yang akan datang sebagai daya tarik organisasi sedangkan tidak cukup banyak karya yang dapat kita hasilkan?
Banyak anggota kita telah mengikuti berbagi kegiatan yang IMADA selenggarakan, bahkan kebanyakan dari mereka terlibat aktiv dalam struktur kepanitiaan, namun sudah puaskah terhadap karya yang kita hasilkan untuk organisasi ini?
Bagaimana-pun, pencitraan organisasi ini dilihat dari karya yang dihasilkan, bagaimana-pun, ketenaran organisasi ini dilihat karya yang telah diciptakan, bagaimana-pun, kehebatan organisasi ini diukur dari karya yang terealisasikan. jadikanlah karya-karya oragnisasi ini sebagi karya anak bangsa yang memiliki arti bagi peradaban. Jangan biarkan organisasi ini berhenti berkarya dan jangan pernah biarkan jiwa dan raga organisasi kita untuk merasa lelah dalam mencetak sebuah karya. mulai-lah bahu membahu dan buat lah rangkaian yang mendukung terciptanya karya-karya dan ingat “Jumlah Yang Kecil Bukan Halangan Untuk Menjadi Besar Dalam Menghasilkan Sebuah Karya Yang Mempunyai Unsur Kritisisme”
Bukannya saya bermaksud mengguruhi atau megajarkan dan berfikir saya lebih hebat serta bukan maksud saya untuk mengarahkan IMADA pada satu pola atau ciri khas tertentu. tulisan ini hanyalah hasil perdebatan antara otak kiri dan otak kanan saya sebelum tidur. Kiranya tulisan yang bersifat spontanitas ini dapat menjadi pengkoreksian atau introspeksi terhadap masing-masing individu yang masih meyandang status anggota aktiv tanpa terkecuali agar dapat memajukan organisasi dan memahami dinamika yang sedang terjadi pada periode yang tentunya masih dizaman kita.
Vayam Maha Saubhaghya Vamsah. AHOI…
Ditulis Oleh
Muhammad Shiddiq Akbar
Wakil Ketua BP IMADA 2007-2009
No Anggota
2921
wek, tulisan temen gw neh
kayanya gw pada kenal niy muke2nye…